Disebuah pemakaman, sejuk juga sunyi terasa. Langit membiru dengan awannya yang tipis, beberapa burung saling bersahutan menyambut pagi. Ditempat itu, seorang gadis terduduk lesu dengan menatap batu nisan didepannya. "Jika aku memaafkannya, maka kau tidak akan memaafkan aku."
ucap gadis itu lemah, sangat lemah.
"Apa yang harus aku lakukan? Dia menghilang."
sudut mata gadis itu berair, sekuat apapun untuk berusaha, air mata itu tetap terjatuh juga.
"Kau pernah berkata, jika pada akhirnya kau pergi aku harus menangis didepan sahabatku."
gadis itu lalu berdiri dan mengusah pipi juga sudut matanya yang basah.
"Dia pergi begitu saja, kau pasti marah karena kau dulu begitu percaya padanya."
gadis itu masih berdiri, mengatakan hal apa saja yang ingin dia katakan.
Gadis itu beberapa saat terdiam, dia merasa cukup atas luapan emosinya. Kini dia harus menyadari, bahwa dia kini sendiri.
Gadis itu berjalan lemah diantara pepohonan pinus, jalan itu terasa jauh dan sepi. Namun langkahnya terhenti, dia melihat seorang yang tidak asing dimatanya sedang berdiri diperempatan jalan. Tangannya bergetar, gadis itu sangat ingin menangis. Namun dia mengingat peristiwa itu, kematian kekasihnya dan sahabat yang meninggalkannya.
Matanya yang semula lemah tanpa harapan, kini terpancar kebencian. Gadis itu memutuskan untuk terus berjalan melewati orang itu.
"Apa kau baik-baik saja?" langkah kaki gadis itu terhenti, suara itu, suara yang terdengar lembut namun menyakitkan baginya.
"Apa kau baru saja menangis?"
suara itu kembali terdengar, sekuat tenaga gadis itu berusaha menjawab.
"Bahkan jika menangis tanpa suara, memendam lebih dalam luka. Aku akan baik-baik saja setelah itu."
jawab gadis itu tanpa menatapnya, tanpa menatap seorang yang dulu dia panggil sahabat. "Maafkan aku!"
ketika mendengarnya, gadis itu sontak menoleh. Hatinya seperti tersayat. "Mungkin selama ini aku salah paham, kau tidak pernah menganggapku sahabatmu."
gadis itu terus menatap tajam seorang didepannya.
"Meskipun begitu, aku bisa menerima. Namun saat aku terjatuh dan kau meninggalkanku, aku tidak bisa memaafkanmu."
seorang itu melepas nafas berat saat mendengarnya dan mulai menunduk merasakan penyesalan. Gadis itu berusaha menahan air matanya. Gadis itu melangkah dan berjalan menjauh dan terus menjauh meninggalkan orang itu sendiri. Gadis itu pergi tanpa menatapnya. "Setelah ini, dia akan semakin sering menemuiku seperti yang lalu."
gumam gadis itu sembari berjalan lemah.
"Meskipun nantinya menemuiku lagi, dia akan datang dan pergi. Datang lalu pergi lagi. Bagiku sudah biasa terjadi."
gadis itu lalu berhenti dan sejenak menatap awan.
"Namun, jika suatu hari dia membuatku tersenyum kembali. Saat itu kau pasti sudah memaafkannya."
gadis itu lalu tersenyum, "Dan saat itu juga, aku akan memaafkannya."
lanjutnya lalu dia kembali berjalan.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar